Sertifikasi Halal Bagi Pengusaha Makanan, Membuat Untung Atau Buntung?

Suara. com berantakan Aturan sertifikasi legal bagi pengusaha makanan ternyata tersedia untung ruginya. Di satu sisi, bisa menambah kepercayaan konsumen terhadap produk makanan yang dibuat dengan bahan-bahan aman.  

Namun dampak lainnya, pada produk yang dikhususkan buat konsumen non muslim, produsen kudu putar otak untuk penjualannya.

“Sekarang pun sungguh sudah diwajibkan untuk punya sertifikat halal untuk bisnis F& B yang saya tahu. Waktu tersebut sebenarnya kita pro kontra serupa karena masih ada produk Dapur Cokelat yang pakai roam serta itu ada customernya, ” perkataan pendiri Dapur Cokelat Ermey Trisniarty saat ditemui di kantornya, Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Namun, secara mayoritas masyarakat Indonesia beragama Agama islam, Ermey pun memaklumi keputusan negeri mewajibkan adanya sertifikasi halal. Jatuh dari paham agama tertentu, Ermey berpandangan, syarat halal itu pula bisa berdampak baik bagi produsen.

Baca Juga: Maruf Amin Akui Produk Halal Indonesia Kalah dengan Negeri brazil

Ilustrasi Hala Expo. [shutterstock]
Ilustrasi Halal Expo. [shutterstock]

“Sebenarnya ada baiknya juga ada sertifikat halal. Karena kita gak cuma lihat dari sisi religiusnya aja, tapi juga melihat sertifikat halal berarti something tujuan baku yang aman dan tersertifikat, ” ujarnya.

Bagi usahanya sendiri, Ermey mengaku, syarat tersebut justru berdampak baik dan tidak terlalu menyusahkan penjualan. Hal itu juga pokok diakuinya, kebanyakan pelanggan Dapur Cokelat juga beragama Islam.  

“Karena jika sudah sertifikat halal, satu F& B bahan baku sendiri kudu punya sertifikat halal. Contohnya, coklat harus sertifikat halal, flavor kudu sertifikat halal, juga bahan-bahan lain harus sertifikat halal. Efeknya ke Dapur Cokelat sendiri sih indah, Alhamdulilah, ” ujarnya.  

About the author