Cepat Berhenti! Ini Tanda-Tanda Produk Skincare yang Dapat Merusak Kulit

–>

Suara. com – Ada banyak percobaan yang harus dilakukan sampai kita dapat menjumpai produk perawatan kulit yang langsung. Meski begitu, tidak semua orang tahu cara memilih skincare dengan bagus bagi kulit.

Bagi kamu yang tengah mencoba-coba aneka jenis skincare, ada baiknya jika kamu melakoni tanda-tanda produk skincare tidak pas di kulit.

Menyadur dari laman The Healthy , kira-kira dermatologis telah mengungkapkan tanda-tanda keluaran skincare yang merusak kulit.

Jika kamu mengalami tanda-tanda berikut, segera hentikan penggunaan skincare dan cari keluaran perawatan kulit lainnya. Apa sekadar tanda-tandanya?

Ilustrasi kulit kering. [Shutterstock]
Ilustrasi kulit kering. [Shutterstock]

1. Rasa bengis atau membakar ketika memakai buatan

Produk skincare yang baik seharusnya tidak menyebabkan rasa menyengat ataupun membakar di kulit. Jika kulitmu terasa seperti terbakar, besar prospek kamu mengalami alergi.

Beberapa produk kecantikan memang dapat menyebabkan rasa bengis yang samar dan sementara. Tetapi, jika rasa menyengat dan menyala itu tidak kunjung hilang, lekas hentikan penggunaan.

Di sisi lain, jangan senewen jika produk skincare baru menerbitkan rasa menyengat setelah beberapa kali pemakaian. Itu artinya, kamu sudah terlalu banyak memakai produk tersebut dan disarankan mengurangi penggunaan.

dua. Kulitmu terasa kering dan mengelupas

Jika skincare yang kamu gunakan menyebabkan kulit di area hidung dan bibir mengelupas, itu artinya kamu mengalami iritasi.

Hal ini biasanya terjadi saat kamu menggunakan buatan perawatan jerawat yang mengandung retinoid ataupun benzoyl peroxide.

Peradangan yang parah pada kulit juga dapat mempercepat penuaan. Untuk itu, kurangilah penggunaan produk dan segera ganti dengan pelembap.

Ilustrasi (shutterstock)
Ilustrasi (shutterstock)

3. Timbul ruam atau berkemal

Tidak semua produk mengandung benih yang aman bagi kulitmu. Kalau kamu mengalami ruam atau berkemal setelah penggunaan, segera berhenti.

Ruam atau lembap biasanya disebabkan oleh bahan pengawet, pengharum, atau bahan kimia bernama acrylates.

Agar lebih aman, kamu bisa melakukan tes alergi di dermatologis sebelum memutuskan membeli sebuah produk.

4. Ada perubahan pada warna pigmen kulit

Noda gelap, kulit terbakar, ataupun bintik-bintik di wajah merupakan sesuatu yang wajar terjadi jika kamu lupa memakai tabir surya.

Namun, jika warna pigmen kulitmu berubah beberapa hari setelah memakai produk skincare, segera berhenti menggunakannya.

Beberapa orang bisa memiliki reaksi alergi yang jarang terhadap bahan-bahan pemutih kulit serupa kojic acid, arbutin , dan hydroquinone . Alergi tersebut akan pegari dalam bentuk bintik hitam pada kulit.

Masalah kulit wajah (Shutterstock)
Masalah kulit wajah (Shutterstock)

5. Kulit menjadi merah serta teriritasi

Hati-hati saat kamu memilih produk skincare untuk mengatasi jerawat. Keluaran yang mengandung salicylic acid dan benzoyl peroxide dapat membuat kulit teriritasi.

Selain itu, pastikan pula produk yang awak gunakan tidak mengandung terlalu banyak minyak. Minyak dapat menyumbat liang renik kulit dan menyebabkan jerawat.

6. Kulit jadi lebih berminyak daripada biasanya

Jika kulitmu makin berminyak, itu berarti kamu menggunakan produk skincare yang terlalu keras untuk kulit.

Hal ini disebabkan oleh terangkatnya lapisan minyak di wajah, sehingga kulit wajahmu malah memproduksi makin banyak minyak.

Cari pelembap atau serum yang mengandung hyaluronic acid alih-alih patra. Hyaluronic acid jauh lebih baik buat membuat kulit tetap terhidrasi.

Segera Berhenti! Ini Tanda-Tanda Produk Skincare yang Dapat Merusak Kulit - 4

7. Mengalami gatal-gatal di sekujur awak

Belakang, hentikan penggunaan skincare jika awak menderita gatal-gatal di seluruh tubuh. Ini berarti, kamu sudah menjalani reaksi alergi yang serius.

Umumnya, awak butuh waktu 2-3 minggu sampai reaksi alergi menghilang dan bisa mencoba skincare baru.

Kamu juga mampu berkunjung ke dokter untuk meminta obat antihistamine agar reaksi alergi tidak makin parah.

About the author